Estetika Homestay di Pulau Tidung

Popularitas Pulau Tidung  Kepulauan Seribu, menyebabkan kedatangan wisatawan terus meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut berdampak pula pada masyarakat Pulau Tidung, yang kini menyediakan banyak homestay.

Meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Tidung meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Tidung. Seperti baru-baru ini, ketika sekira 1.400 peserta Gabung Mulung Tidung (GMT) 3 datang ke pulau ini.

“Ini sebuah anugerah karena lebih banyak peserta dibandingkan dengan GMT sebelumnya. Kegiatan seperti ini berdampak pula terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena menggunakan homestay milik warga,” kata Benyamin, Lurah Pulau Tidung, kepada Okezone, baru-baru ini. “Selain karena programnya peduli lingkungan, jadi tidak membawa sampah, tapi malah mengurangi sampah di Pulau Tidung,” lanjutnya.

Ketika disinggung mengenai menjamurnya homestay di pulau ini, Benyamin mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan nilai lebih dari pulau ini. Fasilitas homestay yang rata-rata sama, dan tidak menyuguhkan kemewahan yang berlebih merupakan nilai estetika dari wisata Tidung yang harus dipertahankan.

“Kami akan menjaga keaslian Pulau Tidung agar nilai estetikanya tidak hilang. Ini wisata berbasis masyarakat, bukan wisata mewah, sehingga semua hasilnya kembali ke masyarakat,” katanya ketika ditemui di dekat Jembatan Cinta.

Bahkan, usaha untuk mempertahankan keaslian tempat wisata di Pulau Tidung membuat pulau ini menjadi contoh bagi tempat wisata di ujung timur Indonesia, yaitu Raja Ampat. “Beberapa waktu yang lalu, perwakilan dari Raja ampat studi banding ke sini. Mereka melihat wisata di sini masih dikuasai penduduk asli sedangkan di sana yang berhasil itu adalah berbagai fasilitas milik investor,” lanjutnya.

Pulau Tidung tidak hanya memiliki potensi wisata alam bahari. Di pulau ini terdapat potensi wisata sejarah dan agrowisata. Kedua hal inilah yang saat ini sedang terus dikembangkan oleh pemerintah Pulau Tidung.

Sebagai bukti wisata sejarah, di Pulau Tidung Besar terdapat sebuah makam Raja Pandita yang merupakan seorang raja di Kalimantan Timur. Raja Pandita juga yang memberikan nama pulau ini dengan Tidung, nama tersebut terinspirasi dari sebuah suku tempatnya berasal. Selain makam Raja Pandita, di Pulau tidung Kecil terdapat sebuah makam Panglima Hitam yang berasal dari Malaysia. Dia merantau dan tinggal di tempat ini hingga akhir hayatnya.

“Panglima Hitam itu sudah lebih dulu datang dibandingkan Raja Pandita. Namun, memang belum begitu tersohor karena kita sedang memfokuskan pengenalan kepada makam Raja Pandita,” lanjut lurah yang telah menjabat selama dua tahun ini.

Di Pulau Tidung Kecil akan segera dikembangkan agrowisata. Di tempat tersebut akan dibuat berbagai fasilitas outbound. Pengkajian terhadap tanaman yang dapat berkembang di Pulau Tidung Kecil telah dilakukan oleh pihak ketiga. Hasilnya menunjukan bahwa daerah tersebut cocok untuk perkembangbiakan buah naga. Diharapkan jika pengembangan agrowisata ini berhasil, maka hasil tanah Pulau Tidung akan bertambah, tidak hanya sukun.