Kisah singkat tentang pulau pramuka

Di tengah kepenatan dan keletihan pada kehidupan bermasyarakat, tentunya kita memerlukan adanya penyegaran atau refresh sejenak. Agar keseimbangan mental kita terus terjaga. Maka banyak dari kita memilih berlibur atau beriwisata  ke tempat yang bergengsi tentu pula indah. Agak aneh kelihatanya, ketika kita lebih memilih berwisata ke negeri orang namun kita abai pada daya tempat wisata negeri sendiri. Padahal di negeri kita sendiri ini pun masih banyak menjulang berbagai tempat yang sangat indah. Dari pegunungan, pantai, pulau dan lain-lain yang tentunya menyimpan banyak cerita atau sejarah tersendiri. Bersentuhan dengan hal itu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang salah satu tempat wisata Nasional yang secara finansial terjangkau bagi masyarakat kelas manapun asal rajin menabung, dan secara gengsi tempat ini juga tidak memalukan apabila anda mengabadikan wujud fotonya lantas memamerkanya di media social anda. 🙂

Adalah Wisata Pulau Pramuka, pulau ini berada di wilayah kepulauan Seribu. DKI jakarta. Sama halnya dengan Pulau Bidadari dan Pulau Panggang.  Tepat satu bulan yang lalu saya baru saja berkunjung ke pulau tersebut. Untuk kali pertamanya saya menyeberangi lautan dan menumpaki kapal. Dari pelabuhan muara angke menuju ke pulau pramuka memakan waktu lebih kurang dua setengah jam, sehingga pada satu jam pertama saya berhasil di buat gelombang- yang awak kapal bilang sedang lumayan tinggi-  muntah. Bagaimana tidak,  Kapal dibuatnya bergoyang  90  derajat ke kanan ke kiri. Tapi buat siapa saja yang takut mabuk laut ketika naik kapal. Jangan khawatir karena itu hanya berlangsung beberapa jenak saja. Sebab, ketika biru dan jernihnya air laut sudah berada di sekitar kita dan tepi pulau sudah terpandang, seketika rasa mual akan sirna dengan sendirinya, dan terciptalah rasa tidak sabar, penasaran dan antusias, untuk segara menginjak pulau tersebut.

Sesampai di dermaga dapat terlihat jelas karang-karang, rumput laut serta ikan-ikan di permukaan laut yang airnya biru muda bagai langit di pagi hari. Banyak  juga para wisatawan yang sedang bersiap-siap untuk menyelam. Tidak sedikit pula Nelayan dan  para warga asli pulau yang sedang berkeliaran di pinggir pulau. Ada yang mencari ikan, ada pula yang berdagang. Pulau yang sudah tidak liar ini menyimpan banyak kisah dan sejarah. Ya tentunya tidak dengan mudah pulau ini bisa berkembang. Rekan saya Amar mendapat banyak informasi dari pulau ini. Dalam laporannya Amar menulis . . “ Pada era orde lama, pulau Pramuka bernama Pulau Elang. Bahnawi, tokoh masyarakat asli kelahiran pulau Panggang 50 tahun lalu, mengatakan bahwa hingga tahun 1980-an masih dapat kita temukan elang bondol, yang sekarang kita kenal sebagai lambang DKI Jakarta. Elang-elang itu hilang seiring pembersihan pulau untuk dijadikan perkampungan. Sejarahnya, sebelum ada Bumi Perkemahan Ragunan dan Cibubur di Jakarta daratan (istilah masyarakat setempat bagi orang yang tinggal di Pulau Jawa) pihak Kepramukaan mengirim anggotanya untuk berlatih di pulau ini. Terjadi pada sekitar tahun 50-an hingga 60-an ,Pun dapat disimpulkan nama pramuka di ambil karena dahulu -sebelum banyak penduduk-pulau ini sering digunakan sebagai tempat pelatihan pramuka.”

Bukan hanya Panorama Alam- pasir putih, beningnya air laut, ikan-ikan, terumbu karang- saja yang berhasil menarik perhatian serta rasa kagum saya. Namun budaya, penduduk, ragam suku dan bahasa, serta folklore(cerita rakyat) dari pulau ini cukup menggiurkan untuk saya selami. Saya akan meneritakan sedikit dari itu semua. Pada pemukiman penduduk yang sebagian juga menjadi wisma atau penginapan untuk para wisatawan tidak luput dari pasir putih. Ya pasir putih mengepung seluruh halaman rumah, pekarangan, dan jalan. Tentu pasir itu asli dari laut, seperti halnya pasir pantai. Dulu mungkin pemukiman itu adalah pantai.

Ketika malam hari saya dan rekan pergi ke dermaga ke pinggir pulau untuk memancing ikan. Ikan-ikan kecil yang berwarna – warni yang bagai mencerminkan keragaman penduduk pulau nan ragam itu betapa jelas mereka terlihat sedang menyemut di permukaan air. Sungguh indah. Para penduduk asli pulau berkomunikasi  menggunakan bermacam bahasa tentu karena banyak suku bersatu-padu di sana, dari bugis, jawa, sumatra, serta sunda.  Saya bertemu salah satu anak pulau. Elie namanya. Pria lima belas tahun ini sering kali berkeliling pulau dengan sepedanya. Bila kalian pergi kesana kemungkinan besar kalian akan melihatnya. Elie berrkulit hitam berambut keriting, percis orang afrika. Saya banyak bertanya tentang pulau ini dengannya. Nada bicaranya tegas, dia mengaku keturunan sumatra, Batak namun saya lupa marganya. Yang jelas dari raut wajahnya yang ceria mencerminkan keadaan seisi penduduk yang tentram dan sejahtera. Ketika saya tanya sejarah kependudukan pulau ini dia kikuk. Dan dia jauh lebih paham tentang  tempat-tempat yang bisa saya kunjungi. Seperti warung-warung makanan khas pulau, penjual minuman keras, penangkaran penyu, penyewaan alat menyelam dan lainya. Dia hafal diluar kepala.

Selain Elie, saya berbincang-bincang juga dengan salah seorang guru yang mengajar di salah satu SMA negeri setempat. Mendapat informasi dari bocah-bocah kecil yang sedang asik bermain sepak bola dilapangan sekolah, saya dan rekan-rekan langsung berkunjung ke tempat tinggal beliau yang tidak jauh dari lapangan sekolah. Sebut saja Sukirman. Pria paruh baya ini adalah asli Jawa tengah. Dari nada bicaranya masih jelas berasa ke’medokan’nya. Dari solo katanya ketika saya tanya. Pak Sukirman tinggal dengan istrinya yang guru juga. Saya dapat banyak informasi tentang sejarah di pulau ini dari beliau. Ketika saya tanya tentang sejarah kependudukan pulau ini dia langsung menceritakan dengan senang hati.

“ dulu pulau ini tidak ada penduduknya. Tapi lebih dulu pulau seberang. Yaitu pulau Panggang. Waktu era sebelum indonesia merdeka banyak pelaut banten,bugis,jawa, berlayar kepulau panggang. Tadinya mereka hanya sekedar mencari ikan. Dulu ikan jauh lebih banyak dibanding sekarang. Lama kelamaan pelaut bugis membangun wisam kecil untuk sekedar menginap. Apabila hendak ke pulau itu. dan para pelaut dari suku lainnya banyak yang mengikuti. Sehingga banyak dari mereka memutuskan untuk menetap di pulau-panggang- itu. Pun lambat-laun mereka beranak pinak sampai pulau itu kelewat padat. Dan pulau terdekat adalah pulau pramuka. Dan seiring berjalannya waktu, banyak keturunan suku-suku yang tinggal di pulau panggang hijrah ke pulau pramuka”

Pulau elang adalah nama dulu dari pulau pramuka. Dari penjelasan lebih dalam pak Sukirman, dahulu di pulau elang pada era 50-60an pihak kepramukaan sering mengirim anggota ke pulau ini untuk berlatih. Sehingga, seiring berdatangnya penduduk yang hijrah dari pulau panggang ke pulau –pramuka- ini, pulau ini pun diberi nama pulau Pramka dan resmi dijadikan perkampungan. Beliau juga menyatakan kalau adat resmi yang sering dipakai penduduk adalah adat betawi sebagai pemersatu, seperti ketika pernikahan atau sunatan. Walau kadang masih ada pula yang memakai adat asli suku. Setelah asik bercerita tentang sejarah pulau ini kami juga asik berbicara tentang kependidikan pulau ini. Pak sukirman adalah guru olah raga, beliau lulusan dari UNISMA daerah bekasi. Dia bercerita… “ Dulu tahun 80an, di sini hanya ada sekolah panggung, dengan bangunan minim dan segalanya seadanya” Dan  sekarang saya melihat sendiri sekolah-sekolah di pulau ini, pemerintah sudah sangat memperhatikan pulau ini, sehingga sarana kependidikan di sana sudah berkembang pesat. Dari bangunan, guru dan kurikulum. Walau masih ada bangunan yang belum selesai atau masih dalam proses pengerjaan.

Rekan saya Amar mendapat informasi tentang cerita rakyat pulau pramuka. Dalam laporannya amar menuliskan… “ Ketika penyerbuan tentara Belanda ke wilayah ini, ingin mengadakan sapu bersih, secara ajaib Pulau Panggang dan Pramuka menghilang tertutup kabut tebal, dan juga dari penglihatan radar. Ini dipercaya ulah penunggu pulau itu di kepulauan ini, ada sosok penjaga yang berkuda putih, masyarakat menyebutnya dengan Penunggang Kuda Putih. Sosoknya seperti seorang syaikh, membawa lentera, dan hanya muncul setiap malam jum’at. Ia akan lebih sering muncul ketika ada bala atau sihir. Dahulu, di pulau ini sering sekali ada penyihir yang mengeluarkan kutukan. Masyarakat jawa menyebutnya santet. Kisahnya, apabila seorang anak tidur pada siang hari, maka sore harinya akan hilang, dan tidak ditemukan. Pada pagi harinya, anak tersebut akan ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan di pulau itu, tanpa luka, tetapi sudah tidak bernyawa. Akan tetapi, disebabkan oleh Penunggang Kuda Putih ini, sihir tersebut dipercaya mental dan tidak dapat menembus dinding ghaib pulau Panggang dan Pramuka”

Tidak Kurang seperti itu saja  yang dapat saya bagi tentang pulau Pramuka. Karena masih banyak cerita tentang pulau ini yang mungkin luput dari pengamatan saya, maka sudah semestinya anda berkunjung ke sana untuk menyempurnakan secuil informasi yang baru saja anda dapatkan di tulisan sederhana  ini.

sumber : http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2013/08/13/sejumput-kisah-si-pulau-pramuka-580777.html